This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Hama dan Pencegahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hama dan Pencegahan. Tampilkan semua postingan

Serangan Penyakit Budog pada Nilam


Serangan Budog pada pucuk tanaman NilamBudog, yang merupakan istilah dalam bahasa Aceh untuk Syn­chytrium pogostemonis (Suka­mto, 2009), sebuah penyakit yang sering menyerang tanaman nilam. Budog me­nyebabkan kutil pada daun, batang dan tang­kai yang bengkak dan menebal; kemerahan-ungu, daun terlihat berkerut dan tebal dengan warna merah keunguan (Sukamto, 2009). Say­angnya, penelitian-penelitian tentang penya­kit budog belum begitu banyak didokumen­tasikan sehingga belum banyak ditemukan data dan analisis pembanding. Petani nilam di Aceh Selatan saat ini telah mencatat budog di bidang mereka sejak 1980-an (Parande, 2011).
Kehadiran budog telah meningkat dalam 10 tahun terakhir (Soleh, 2011), yang bersamaan dengan terjadinya “demam nilam” di rent­ang tahun 1997-1998 (Caritas Republik Ceko, 2011) di mana lonjakan produksi nilam akan membuka kesempatan bagi budog untuk akan menyebar ke berbagai lahan baru. Ini juga kebiasaan yang umum di Sumatera bagi petani untuk terus menanam dan panen nil­am budog terinfeksi, sebagai tanaman masih memproduksi minyak lebih rendah meskipun kuantitas dan kualitas (Sagala, 2009). Budog awalnya terisolasi ke Sumatera, tetapi seka­rang ditemukan di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa dimana budidaya nilam telah menyebar (Sukamto, 2009).

PENGARUH PADA NILAM

Efek Fisik

Serangan Budog pada Batang tanaman nilamGejala serangan awal dapat dilihat sedini mungkin baik pada persemaian maupun di la­pang, dengan ditandai adanya benjolan-ben­jolan kecil pada permukaan atas dan bawah daun, serta batang. Budok menyebabkan kutil mucul pada daun, batang maupun tunasnya (nuryani, 2006). Gejala pertama dari budog biasanya adalah tumbuhnya “kutil” pada tu­nas baru yang kemudian meluas ke bagian batang utama yang memiliki struktur sel yang lebih keras. Pada serangan lanjut, akan meng­hambat pertumbuhan vegetatif sehingga rumpun tanaman tidak bertambah besar, permukaan batang menebal, ruas batang memendek, pada ketiak cabang tumbuh tu­nas-tunas berdaun keriput. Rumpun tanaman yang terserang pertumbuhannya terhenti, bahkan kanopinya cenderung mengecil. Tan­da dan gejala lainnya adalah batangnya men­jadi kerdil (Wahyuno, Pengelolaan Perbenihan Nilam Untuk Mencegah Penyebaran Budog, 2010). Diagnosisi dini sering kali sulit dilaku­kan karena umumnya gejala-gejala (kutil dan jaringan mati) akan nampak jelas setelah 4 minggu terjangkit.

Efek Ekonomi

Belum banyak studi formal tentang penu­runan kualitas minyak nilam akibat serangan penyakit budog pada tanaman nilam. Salah satu hasil studi yang akan segera dipublikasi oleh salah satu instansi pemerintah, Balittro, menerangkan bahwa tidak ditemukannya pengaruh kualitas minyak nilam akibat bu­dog. (Wahyuno, Peneliti, 2010) Namun, dari cerita dari mulut ke mulut yang beredar di kalangan petani mengatakan bahwa pihak pembeli lokal tidak akan membeli minyak nilam yang terinfeksi budog, karena mereka dapat melihat adanya perubahan dalam min­yak yang dihasilkan (Soleh, 2011), khususnya pada bau minyak (Cakra, 2011), yang mereka katakan berbau tidak sedap atau “bau apek”. Pada praktek-praktek yang telah sebelumnya dilakukan petani, mereka biasanya mencam­pur sejumlah minyak dari berbagai level kuali­tas untuk mendapatkan minyak yang lebih baik untuk dijual ke pedagang pengumpul.

Dengan praktek pencampuran ini bau apek yang dihasilkan oleh nilam yang terkena bu­dog dapat ditutupi. Namun, sejalan dengan proyek Caritas yang memiliki target untuk menjual minyak nilam berkualitas tinggi ke­pada para pembeli di tingkat internasional maka hal ini dapat menjadi isu yang penting. Ada pendapat umum yang beredar di ka­langan petani bahwa nilam yang kerdil dan cacat akibat budog dapat menghasilkan hasil timbangan daun (kg) yang lebih rendah, den­gan asumsi bahwa petani melakukan penyul­ingan terhadap nilam yang terinfeksi, bukan membuangnya. Tergantung dari keparahan infeksinya, maka lebih dari 50% hasil panen bisa hilang (Soleh, 2011), meskipun harus di­catat bahwa jumlah minyak yang sama akan dihasilkan per kg daunnya.

PENANGGULANGAN BUDOG

Meskipun secara umum penyebab dan pen­anggulangan terhadap budog masih belum sepenuhnya disepakati atau dipahami, ada berbagai rekomendasi mengenai cara mana­jemen terhadap serangan budog. Dari berb­agai literatur dan penelitian yang dilakukan oleh para ahli, secara umum rekomendasi yang diberikan dalam penanggulangan bu­dog adalah penggunaan bibit nilam yang bersih dan sehat sebagai cara terbaik untuk mencegah kemunculan dan penyebaran bu­dog serta penggunaan lahan yang belum pernah terkontaminasi oleh penyakit budog. (Sukamto, 2009). Rekomendasi lainnya adalah penggunaan insektisida untuk mencegah se­rangga yang dapat membawa dan menyebar­kan (host) budog (Hidayat & Sutrisno, 2006).  Untuk tanah yang sebelumnya telah ter­kontaminasi dengan budog, ada sejumlah rekomendasi khusus pada penggunaan fungi­sida terutama dari Balittro. Ketika melakukan perawatan tanah dengan fungisida, tempat 5 gram fungisida per lubang tanaman bersama dengan pupuk selama penanaman. Jika pada saat ini tanaman nilam telah terkontaminasi dengan budog, maka direkomendasikan un­tuk mencabut dan membakar tanaman yang telah terinfeksi dan “obati” tanah yang terin­feksi dengan fungisida sebelum spora dapat menjadi aktif kembali. Sebuah Perusahaan swasta, Indarro, hanya merekomendasikan penerapan fungisida, yang mereka telah mer­eka rancang sendiri disebut Fudoc, jika nilam masih dalam waktu satu bulan panen, jika ti­dak, maka hal tersebut tidak efektif. Penggu­naan fungisida tentunya tidak mempengaruhi budog aktif dan relatif terjangkau.

Bakteri Pada Nilam

Penyakit Layu Bakteri Pada Nilam


Massa Bakteri Ralstonia Solanacaerum pada batang nilamPenyakit layu bakteri nilam dapat menimbulkan kematian nilam cukup besar, dan menurunkan produksi nilam dan kerugian hasil mencapai 60-80% pada tahun 1991 (Asman et al, 1993). Penyakit ini telah menyebar ke daerah sentra produksi di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh. Akhir-akhir ini pe­nyakit layu bakteri nilam telah menyebar luas dan merupakan ancaman terhadap pertana­man nilam. Gejala penyakit berupa tanaman layu pada cabang-cabang tanpa suatu urutan yang teratur dan gejala lanjut berupa seluruh bagian tanaman layu atau mati dalam waktu singkat (Sitepu dan Asman, 1989). Penyakit layu bakteri nilam disebabkan oleh Ralsto­nia solanacearum E.F. Smith (Sitepu dan Asman, 1989; Radhakrishan et al., 1997; As­man et al., 1998). Penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum merupakan salah satu penyakit tanaman paling berbahaya yang tersebar luas di dae­rah tropika dan sub tropika (Hayward, 1984), dan banyak menyerang tanaman pertanian di antaranya tomat, kacang tanah, pisang, kentang, tembakau dan suku Solanaceae lainnya (Persley et al., 1985). Bakteri R. sola­nacearum dibagi menjadi 5 ras berdasarkan kisaran inang : ras 1 menyerang tembakau, tomat, dan Solanaceae lainnya; ras 2 meny­erang pisang (tripoloid) dan Heloconia; ras 3 menyerang kentang; ras 4 menyerang jahe, dan ras 5 menyerang murbei. Berdasarkan ok­sidasi disakarida dan alkohol heksosa, maka bakteri ini dibagi ke dalam 5 biovar (Schaad et al., 2001). Sampai saat ini ras, biovar dan beberapa sifat-sifat bakteriologi dari R. sola­nacearum penyebab penyakit layu bakteri nil­am belum diketahui (Sitepu dan Asman, 1989; Radhakrishan et al., 1997; Asman, 1996). Hal ini dapat menyebabkan usaha pengendalian yang telah dilakukan selama ini tidak mem­peroleh hasil yang memuaskan.

PENGARUH PADA NILAM

Gejala serangan penyakit layu bakteri adalah sebagai berikut : Kelayuan terjadi pada tanaman mudaGejala Awal serangan Bakteri Ralstonia Solanacerum pada Batang Nilam dan tua (dari cabang ke cabang secara tidak teratur); Tanaman akan mengalami kelayuan dalam waktu 2 – 5 hari setelah terinfeksi. Pada saat bersamaam ada cabang yang layu dan sehat, pada perkem­bangan lebih lanjut seluruh bagian tanaman layu dan mati. Pada tanaman berumur 1 -3 bulan kematian terjadi 6 hari setelah terlihat gejala serangan. Pada tanaman berumur 4 -5 bulan kematian terjadi 1 -2 minggu setelah gejala terlihat. Jaringan batang dan akar tana­man yang terserang membusuk sedang kulit akar sekundernya mengelupas. Irisan melint­ang batang terserang memperlihatkan warna hitam sepanjang jaringan yang layu sampai kambium. Bila cabang yang layu dipotong akan tampak lendir seperti susu, begitu pula bila direndam di dalam air bersih.

PENANGGULANGAN

Menurut Sukamto (2009), penanggulan­gan penyakit pada tanaman nilam dilakukan secara terpadu yaitu dengan memanfaatkan berbagai komponen pengendalian mulai dari penyiapan bahan tanaman/bibit unggul (be­bas penyakit), perlakuan persemaian/pem­bibitan, penanaman di lapang dan pemeli­haraan tanaman yang rutin dari mulai tanam sampai panen. Pengendalian penyakit pada nilam untuk menurunkan intensitas seran­gannya bisa dilakukan yaitu dengan per­lakuan penggunaan pupuk organik, mulsa, pestisida nabati, agensia hayati/musuh alami dan pestisida kimia sebagai alternatif terakhir.

Strategi pengendalian penyakit layu bak­teri pada nilam secara umum dapat dilakukan dengan cara: 
  1. Sanitasi dan eradikasi un­tuk mengurangi inokulum.
  2. Membersih­kankan lahan yang sudah terinfeksi bakteri selama 2-3 tahun dan mencabut tanaman terserang, serta membakarnya.
  3. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang layu bakteri seperti tanaman padi atau jagung.
  4.  Memperbaiki saluran drainase pada waktu curah hujan tinggi. Tanaman yang ditanam di lahan yang tergenang air atau air tanah dangkal dapat mendorong berkembangnya organisme pengganggu tumbuhan seperti cendawan dan bakteri, oleh karena itu diper­lukan adanya parit drainase.
  5.  Menggunak­an bibit unggul atau bibit dari tanaman sehat pada kebun yang belum terserang penyakit layu bakteri.
  6. Menggunakan agensia hayati yaitu bakteri Pseudomonas flourescen, Pseudomonas sepasia, Bacillus sp., dan Micrococcus sp.
  7. Penggunaan pestisida nabati dari bahan tanaman cengkeh dan kayu manis.
  8. Pestisida kimia digunakan sebagai alternatif terakhir, yaitu dengan penggunaan pestisida yang berbahan aktif streptomycin sulfat dan carbofuran.
Sumber Tulisan :
  • Nasrun dan Yang Nuryani, Penyakit Layu Bakteri pada Nilam dan Strategi Pengendaliannya, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik
  • Yani Maryani, Sp. Layu Bakteri yang merugikan Nilam, http://ditjenbun.deptan.go.id/

Penyakit Kuning Pada Nilam


Penyakit Kuning/Daun Merah Akibat Nematoda pada Nilam
 
Daun nilam akibat nematoda
Dalam upaya meningkatkan hasil minyak nilam yang dibudiday­akan petani maka keberadaan nematoda parasit pada nilam perlu diwaspadai. Pratylenchus brachyurus adalah nematoda endoparasit migratori pen­ghuni tanah, penyebab lesio nekrotik pada akar dan tersebar luas di daerah tropik. Se­rangan nematoda pada tanaman nilam dil­aporkan terdapat di Jawa Barat (Djiwanti dan Momota 1991), Sumatera Barat (Pupuk Is­kandar Muda 1991), dan Aceh (Sriwati 1999). Beberapa jenis nematoda parasit yang me­nyerang tanaman nilam adalah  P. brachy­urus, M. incognita, M. hapla, Scutello­nema, Rotylenchulus, Helicotylenchus, Hemicriconemoide dan Xiphinema (Dji­wanti dan Momota 1991) serta Radopholus similis (Mustika et al. 1991; Mustika dan Nu­ryani 1993). Di antara nematoda tersebut, P. brachyurus, M. incognita, dan R. similis adalah yang paling merusak dibandingkan dengan spesies lainnya. Pada umumnya pertana­man nilam tersebar pada tanah dengan pH 4,50-5,50 (Mustika dan Nurmansyah 1993). Kisaran keasaman tersebut sangat sesuai bagi perkembangan nematode parasit teru­tama Pratylenchus spp. (McLean dalam Wal­lace 1987).

SERANGAN NEMATODA PADA NILAM
 
Tanaman nilam yang terserang nematode pertumbuhannya terhambat, daun-daun menjadi kuning klorosis (mirip kekurangan unsur hara N, P, dan K) atau kemerahan. Hal ini terjadi karena nematoda merusak pera­karan tanaman sehingga penyerapan air dan unsure hara terganggu. Bila populasi Meloidogyne spp. dominan, gejala yang tam­pak adalah buncak akar (bengkak pada akar), sedangkan bila R. similis atau P. brachyurus yang dominan, gejala yang tampak adalah luka-luka nekrosis pada akar (Mustika dan Rachmat 1998; Mustika dan Nazarudin 1999). Kadang-kadang gejala tersebut muncul bersamaan. Pada serangan lanjut akar akan membusuk dan akhirnya tanaman mati. Gejala khas serangan nematoda pada tana­man nilam di lapang adalah penyebaran­nya sporadis atau berkelompok. Serangan nematoda juga menyebabkan tanaman lebih mudah terserang patogen atau OPT lain sep­erti jamur, bakteri, dan virus. Serangan menu­runkan produktivitas dan kualitas hasil.
Di lapangan, serangan nematoda menu­runkan produksi nilam hingga 75% (Mustika 1996). Varietas Jawa (Girilaya) lebih toleran terhadap nematoda daripada varietas Aceh (Sidikalang), Tapak Tuan dan Lhokseumawe (Mustika dan Nuryani 1993). Nematoda juga menyerang akar tanaman nilam, kerusakan akar menyebabkan berkurangnya suplai air ke daun, sehingga stomata menutup, akibat­
nya laju fotosintesa menurun (Wallace, 1987).

STRATEGI PENGENDALIAN

Nematoda parasit tanaman dapat dikendal­ikan dengan cara sanitasi, pergiliran tanaman, pemilihan waktu tanam, penggunaan tana­man resisten, bahan kimia, dan secara hayati dengan menggunakan agen biotik maupun abiotik (Sayre 1980a; 1980b). Di negara-neg­ara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat, pengendalian nematoda dilakukan secara hayati terpadu antara lain dengan meng­gunakan musuh alami (agen hayati), bahan organik, tanaman antagonis, dan rotasi tana­man (Dickson et al. 1992a; Rodriguez-Kabana 1992; Madulu et al. 1994). Franco et al. (1992) telah menyusun strategi pengendalian nematoda secara terpadu menggunakan varietas tahan atau toleran, teknik budi daya, agen hayati, rekayasa gene­tik, fisik, kimia dan karantina.
Dalam jurnal terbitan Minyak Atsiri In­donesia yang ditulis oleh Sukamto, dari Ba­lai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, beberapa metoda pengendalian penyakit nematoda pada tanaman nilam disimpulkan secara singkat meliputi beberapa cara terpa­du yang meliputi :
  1. Pemberian pupuk lengkap NPK, Urea dan TSP dengan dosis dan interval teratur (se­tiap bulan). 
  2. Pada tanah dengan pH lebih kecil dari 5.5, diberikan dolomit (CaCO3 atau MgCO3) yang mengandung 19% MgO dan CaO dengan dosis 25-50 g/tanaman/tahun.
  3. Pemberian pupuk kandang (kotoran sapi, 1-2 kg/tanaman sebelum tanam dengan tu­juan untuk meningkatkan populasi mikroor­ganisme antagonis (musuh alami) nematode.
  4. Pemberian mulsa daun akar wangi atau lalang setebal 10 cm pada saat tanam untuk memelihara kelembaban tanah. 
  5. Penggu­naan bungkil jarak 250 g/tanaman/6 bulan sebagai bahan organik dan pestisida nabati untuk menekan populasi nematoda. 
  6. Peng­gunaan musuh alami nematoda yaitu bakteri Pasteuria penetrans dengan dosis 2 kapsul/ tanaman/6 bulan, atau jamur Arthrobotrys sp. Sebanyak 125 g/tanaman/6 bulan, untuk menekan populasi nematoda di dalam tanah.
  7. Pemberian nematisida Furadan 3G dengan dosis 3-5 g/tanaman, bakterisida (Agrimycin) 2 g/tanaman dan fungisida (Benlate) 2 g/ tanaman.

Sumber Tulisan :
  • Ika Mustika, Konsepsi dan Strategi Pengendalian Nematoda Parasit Tanaman di Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
  • Sukamto, Status Penyakit Pada Tanaman Nilam dan Tekhnologi Pengendaliannya, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik


Hama Pada Nilam


Produk yang dihasilkan dari nilam adalah terna (daun dan ranting) tanaman. Tanaman nilam dapat dipanen pertama kali pada umur 4-6 bulan, panen berikutnya dilakukan se­lang waktu 2-6 bulan sekali sampai tanaman berumur tiga tahun. Untuk meningkatkan produksi dan produktivitas terna (daun dan ranting) nilam, harus dilakukan cara-cara bu­didaya yang baik dan benar termasuk dian­taranya bagaimana cara pengendalian hama tanaman nilam.
Dengan makin berkembangnya pengobatan secara aromaterapi, minyak atsiri yang dihasilkan oleh tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth), makin banyak dibutuhkan karena minyak nilam bersifat fixatif (sebagai pengikat minyak atsiri lainnya) yang sampai saat ini belum ada produk penggantinya, se­hingga tanaman nilam perlu dibudidayakan secara luas.

 
Nilam dapat tumbuh dengan baik dida­taran rendah maupun tinggi sampai keting­gian 2.000 m diatas permukaan laut (dpl). Nilam yang tumbuh di dataran tinggi, tingkat kesuburannya relatif lebih baik, karena pen­garuh suhu udara dan kondisi kesuburan dan kondisi alam yang relatif sejuk. Namun ren­demen minyak yang ddihasilkan dari nilam yang tumbuh didaerah dataran rendah. Nil­am akan memproduksi minyak atsiri dengan baik bila ditanam didaerah berketinggian 10- 400 m dpl. Sampai saat ini para petani nilam masih belum menghasilkan secara maksimal hal ini dikarenakan masih terbatasnya pen­getahuan para petani dalam melakukan bu­didaya diantaranya dalam mengendalikan hama tanaman nilam.

Beberapa hama yang dapat menyerang tanam nilam dan dapat menurunkan produksi minyak atsiri sebagai berikut:
  1. Kumbang Pemakan Daun (Apogonia spp)
  2. Ulat penggulung daun (Pachyzaneba stutalis), ulat ini hidup dalam gulungan daun muda, sambil memakan daun yang tumbuh, pada serangan berat, yang tersisa hanya tulang-tulang daun nilam. Pengendaliannya dilakukan dengan cara sebagai berikut: a) mengumpulkan dan memusnahkan bagian tanaman yang terserang. Melakukan penga­matan yang ketat pada areal terserang untuk menghindari terjadinya ledakan populasi. Pengamatan dilakukan dengan cara menga­mati saat munculnya gejala awal kerusakan daun yang terserang larva stadia muda. Mengingat siklus hidup hama berkisar antara 38-42 hari, maka pengamatan sebaiknya di­lakukan setiap bulan sejak tanaman berumur satu bulan sampai saat panen; b) Gunakan skstrak mimba dan bioisektisida (Beauveria bassiana). Cara ini Walau tidak mematikan secara langsung tapi cukup efektif dan tidak mencemari lingkungan.
  3. Belalang (Orthoptera), hama ini me­makan daun, sehingga tanaman menjadi gundul. Pada serangan berat, batang tana­mannya dimakan dan akhirnya mati. Jenis belalang yang banyak merusak tanaman nil­am adalah: belalang kayu (Valanga nigricor­nis). Belalang daun (Acrida turita). Belalang kayu dapat menyebabkan kerugian hasil 20-25%, karena belalang tersebut berpin­dah dari satu kebun ke kebun lain, Batang dan cabang tanaman sering patah akibat gigitannya sehingga perumbuhan tanaman terganggu. Belalang daun biasanya memak­an daun mulai dari pinggir atau tengah se­hingga terbbentuk bekas gigitan melingkar atau lonjong. Kadang-kadang belalang juga merusak batang dan ranting tanaman. Cara pengendalian hama belalang ini dilakukan dengan cara : a) melakukan sanitasi lingkun­gan; b) melakukan pengolahan tanah yang baik karena dapat membunuh telur belalang kayu sebelum menetas; dan c) menggunak­an musuh alami seperti cendawan Metarhi­zium anisoliae.
  4. Tungau merah (Tetranychus sp.), tungau merah umumnya menyerang daun tua dan muda, tungau hidup berkelompok di permukaan daun bagian bawah, merusak tanaman dengan cara mengisap cairan daun. Gejala serangan memperlihatkan bercak-bercak putih. Semakin lama bbercak sema­kin melebar. Selain itu juga memperlihatkan gejala daun berlekuk-lekuk tidak teratur. Pada tingkat serangan berat daun akan ron­tok. Kerugian hasil dapat mencapai 15-25%. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara: a) pemangkasan (pemetikan daun), untuk mencegah meluasnya serangan. Pemetikan dilakukan pada saat populasi tungau masih rendah. Pemetikan yang dilakukan sedemiki­an rupa dapat menyebabkan terbuangnya telur-telur dan tungau dewasa; b) dengan melakukan penanaman tanaman perangkap, dengan menanam ubi kayu dan jarak (Rici­nus communis) sebagai barrier; c) peng­gunaan musuh alami seperti Phytosentulus persimlis, P. Macro pelis (menyerang telur dan nimfa) dan Coccinelids; d) penyempro­tan dengan insektisida nabati (ekstrak biji mimba) dosis 100 gr/liter.
  5. Criket pemakan daun (Gryllidae), hama ini memakan daun muda, sehingga daun ber­lubang-lubang dan menyebabkan pr4oduksi turun. Pengendalian dilakukan dengan cara sanittasi lingkunggan. Pengendalian hama tanaman nilam dapat dilakukan dengan menggunakan pestisida nabati seperti ekstrak biji nimba (100 gr/liter), minyak serai wangi, minyak cengkeh (konsentrasi 305 v/v) atau dengan agensia hayati seperti Beauveria bassi­ana untuk ulat pemakan daun dan Metarrhi­zium anisopliae untuk belalang

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites